Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional. Berikut ini adalah perbedaan tersebut yang dicuplik dari buku Asuransi Syariah (Life And General) Konsep Dan Sistem Operasional, (Jakarta: Gema Insani Pres,2004) karya pakar asuransi syariah Indonesia, Ir. Muhammad Syakir Sula, AAIJ, FIIS.

No
Prinsip
Asuransi Konvensional
Asuransi Syariah
1
Konsep
Perjanjian Antara Dua Pihak Atau Lebih, Dengan Mana Pihak Penanggung Mengikatkan Diri Kepada Tertanggung, Dengan Menerima Premi Asuransi, Untuk Memberikan Pergantian Kepada Tertanggung.
Sekumpulan Orang Yang Saling Membantu, Saling Menjamin, Dan Bekerjasama, Dengan Cara Masing-Masing Mengeluarkan Dana Tabarru’.
2
Asal Usul
Dari Masyarakat Babilonia 4000-3000 Sm Yang Dikenal Dengan Perjanjian Hammurabi. Dan Tahun 1668 M Di Coffe House London Berdirilah Lioyd Of London Sebagai Cikal Bakal Asuransi Konvensional.
Dari Al-Aqilah, Kebiasaan Suku Arab Jauh Sebelum Islam Datang. Kemudian Disahkan Oleh Rasulullah Menjadi Hukum Islam, Bahkan Telah Tertuang Dalam Konstusi Pertama Di Dunia (Konstitusi Madinah) Yang Dibuat Langsung Rasulullah.
3
Sumber Hukum
Bersumber Dari Pikiran Manusia Dan Kebudayaan. Berdasarkan Hukum Positif, Hukum Alami, Dan Contoh Sebelumnya.
Bersumber Dari Wahyu Ilahi. Sumber Hukum Dalam Syariah Islam Adalah Al-Qur’an, Sunnah Atau Kebiasaan Rasul, Ijma’, Fatwa Sahabat, Qiyas, Istihsan, ‘Urf/Tradisi, Dan Maslahah Mursalah
4
Maghrib
(Maisir, Ghoror, Riba)
Tidak Selaras Dengan Syariah Islam Karena Adanya Maisyir, Ghoror, Riba; Hal Yang Diharamkan Dalam Muamalah
Bersih Dari Praktek Adanya Maisyir, Ghoror, Dan Riba.
5
DPS (Dewan Pengawas Syariah)
Tidak Ada, Sehingga Dalam Banyak Prakteknya Bertentangan Dengan Kaidah- Kaidah Syara’.
Ada, Yang Berfungsi Mengawasi Pelaksanaan Operasional Perusahaan Agar Terbebas Dari Praktek-Praktek Muamalah Yang Bertentangan Dengan Prinsip­Prinsip Syariah
6
Akad
Akad Jual Beli (Akad Mua’awadhah, Akad Idz’aan, Akad Gharar Dan Akad Mulzim).
Akad Tabarru’ dan Akad Tijarah (Mudharabah, Wakalah, Wadi’ah, Syirkah dan sebagainya)
7
Jaminan/Risk (Risiko)
Tranfer Of Risk, Dimana Terjadi Transfer Risiko Dari Tertanggung Kepada Penanggung.
Sharing Of Risk, Dimana Terjadi Proses Saling Menanggung Antara Satu Peserta Dengan Peserta Lainnya (Ta’awun).
8
Pengelolaan Dana
Tidak Ada Pemisahan Dana, Yang Berakibat Pada Terjadinya Dana Hangus(Untuk Produk Saving Life)
Pada Produk-Produk Saving (Life) Terjadi Pemisahan Dana, Yaitu Dana Tabarru’ (Derma) Dan Dana Peserta, Sehingga Tidak Mengenal Istilah Dana Hangus. Sedangkan Untuk Term Insurance (Life) Dan





General Insurance Semuanya Bersifat Tabarru’.
9
Investasi
Bebas Melakukan Investasi Dalam Batas- Batas Ketentuan Perundang-Undangan, Dan Tidak Terbatasi Pada Halal Dan Haramnya Objek Atau Sistem Investasi Yang Digunakan.
Dapat Melakukan Investasi Sesuai Ketentuan Perundang-Undangan, Sepanjang Tidak Bertentangan Dengan Prinsip-Prinsip Syariah Islam. Bebas Dari Riba Dan Tempat-Tempat Investasi Yang Terlarang.
10
Kepemilikan Dana
Dana Yang Terkumpul Dari Premi Peserta Seluruhnya Menjadi Milik Perusahaan. Perusahaan Bebas Menggunakan Dan Menginvestasikan Kemana Saja.
Dana Yang Terkumpul Dari Peserta Dalam Bentuk Iuran Atau Kontribusi, Merupakan Milik Peserta (Shahibul Mal). Asuransi Syariah Hanya Sebagai Pemegang Amanah (Mudharib) Dalam Mengelola Dana Tersebut.
11
Unsur Premi
Unsur Premi Terdiri: Tabel Mortalita (Mortality Tables), Bunga (Interest), Biaya-Biaya Asuransi (Cost Of Insurance)
Iuran Atau Kontribusi Terdiri Dari Unsur Tabarru’ Dan Tabungan (Yang Tidak Mengandung Unsur Riba). Tabarru’ Juga Dihitung Dari Tabel Mortalita, Tetapi Tanpa Perhitungan Bunga Teknik.
12
Loading/Komisi Agen
Loading Pada Asuransi Konvensional Cukup Besar Terutama Diperuntukkan Untuk Komisi Agen, Bisa Menyerap Premi Tahun Pertama Dan Kedua. Karena Itu Nilai Tunai Pada Tahun Pertama Dan Kedua Biasanya Belum Ada (Masih Hangus).
Pada Sebagian Asuransi Syariah, Loading (Komisi Agen Tidak Dibebankan Pada Peserta Tapi Dari Dana Pemegang Sahamm. Tapi, Sebagian Yang Lainnya Mengambil Dari Sekitar 20-30 Persen Saja Dari Premi Tahun Pertama. Dengan Demikian Nilai Tunai Tahun Pertama Sudah Terbentuk.
13
Sumber Pembiayaan Klaim
Sumber Biaya Klaim Adalah Dari Rekening Perusahaan, Sebagai Konsekuensi Penanggung Terhadap Tertangggung, Murni Bisnis Dan Tidak Ada Nuansa Spiritual.
Sumber Pembiayaan Klaim Diperoleh Dari Rekening Tabrrau’ Dimana Peserta Saling Menanggung. Jika Salah Satu Peserta Mendapat Musibah, Maka Peserta Lainnya Ikut Menanggung Bersama Risiko Tersebut.
14
Sistem Akuntansi
Menganut Konsep Akuntansi Accrual Basis, Yaitu Proses Akuntansi Yang Mengakui Terjadinya Peristiwa Atau Keadaan Non Kas. Dan Mengakui Pendapatan, Peningkatan Aset, Expenses, Liabilities Dalam Jumlah Tertentu Yang Baru Akan Diterima Dalam Waktu Yang
Menganut Konsep Akuntansi Cash Basis, Mengakui Apa Yang Benar-Benar Ada, Sedangkan Accrual Basis Dianggap Bertentangan Dengan Syariah Karena Mengakui Adanya Pendapatan, Harta, Beban Atau



Akan Datang.
Hutang Yang Akan Datang. Sementara Apakah Itu Benar­Benar Dapat Terjadi Hanya Allah Yang Tahu.
15
Keuntungan (profit)
Keuntungan Yang Diperoleh Dari Surplus Underwriting, Komisi Reasuransi, Dan Hasil Investasi Seluruhnya Adalah Keuntungan Perusahaan.
Profit Yang Diperoleh Dari Surplus Underwriting, Komisi Reasuransi Dan Hasil Investasi, Bukan Seluruhnya Menjadi Milik Perusahaan, Tetapi Dilakukan Bagi Hasil (Mudharabah) Dengan Peserta.
16
Visi dan Misi
Secara Garis Besar Misi Utama Dari Asuransi Konvensioanl Adalah Misi Sosial
Misi Yang Diemban Dalam Asuransi Syariah Adalah Misi Aqidah, Misi Ibadah (Ta’awun), Misi Ekonomi (Iqtishad), Dan Misi Pemberdayaan Umat (Sosial)


 

Terimakasih sudah berkunjung !
EmoticonEmoticon