Konsep Riba Menurut Fuqaha

Dalam literatur fikih, pada umumnya para fuqaha membedakan riba dalam dua kategori. Pertama, riba nasî’ah, yang juga lazim disebut sebagai riba Alquran, riba al-duyûn, dan atau riba al-jallî. Kedua Riba fadhl, yang juga lazim dikenal sebagai riba al-sunnah, riba albuyû‘, riba al-nisâ’, dan/atau riba al-khaffî. Berikut penjelasannya menurut fuqaha.


Riba Nasi'ah

Mazhab Hanafi mendefinisikan Riba Nasi'ah sebagai berikut :

Tambahan atas benda yang diutangkan, yang berbeda jenisnya, baik yang dapat ditakar dan atau dapat ditimbang, maupun yang sejenis, tetapi tidak dapat ditakar dan atau tidak dapat ditimbang.
Mazhab Hanafi mendefinisikan Riba nasi'ah sebagai berikut :




(Perjanjian) utang  untuk  jangka  waktu  tertentu  dengan  tambahan  pada waktu pelunasan utang, tanpa adanya penggantian yang sepadan.
 Secara sederhana Wahbah  al-Zuhaylî mendefinisikan  riba al-nasî’ah sebagai berikut:

 


Riba nasî’ah ialah mengakhirkan pembayaran utang dengan tambahan dari jumlah utang pokok (dan ini lazim disebut riba Jahiliyyah).

Riba Fadhl

Riba fadhl, yang juga lazim dikenal sebagai riba al-sunnah, riba albuyû‘, riba al-nisâ’, dan/atau riba al-khaffî.
Mazhab Hanafi mendefiniskan riba fadl dengan :

Kelebihan  (yang  diperoleh)  dari  sebuah  transaksi  tanpa  adanya  penggantian meskipun  secara  hukum  berdasarkan  parameter  yang  ditetapkan syari‘at  yang disyaratkan  terhadap  salah  satu  pihak  dari  dua  pihak  yang saling melakukan pertukaran.
Sedangkan dalam mazhab Syâfi‘î, riba fadhl itu didefinisikan sebagai berikut:
Akad  yang  ditetapkan  pada  sebuah  transaksi  pertukaran  barang  tertentu yang  tidak  diketahui  kesesuaiannya  berdasarkan  parameter  yang  ditetapkan  syariat sewaktu  akad  tersebut  dibuat  atau  karena  adanya  keterlambatan penyerahan salah satu atau kedua jenis barang yang dipertukarkan.
Mengenai  benda-benda  yang  menjadi  objek  riba fadhl, para fukaha berbeda  pendapat.  Pendapat pertama,  semisal  dianut  oleh  Daud al-Zhahiri,  Qatâdah,  Thawus  Ibn  Kaisan, Ali  Ibn  Aqil al-Baghdadi,  dan Utsman  al-Buti,  bendabenda  yang  menjadi  objek  riba  fadhl  terbatas  pada  enam jenis  benda  yang disebut dalam hadis Nabi yang berbunyi sebagai berikut:


Dari ‘Ubâdah ibn  al-Shâmit  berkata,  aku  mendengar  Rasulullah Saw. melarang menukar emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kacang sya'ir dengan kacang sya'ir, kurma dengan kurma, garam dengan  garam,  kecuali sama dan  sebanding.  Barangsiapa  yang  menambahkannya  atau sengaja  meminta tambahannya,  maka  ia  sudah  berbuat riba. Maka para sahabat pun segera mengembalikan (barang yang masuk kategori riba) yang semula telah diambilnya. (H.r. Muslim).
Berbeda dengan pendapat tersebut, pendapat kedua, yang antara lain, dianut oleh Ibn Hazm, menyatakan objek riba fadhl dapat diperluas sehingga dapat mengakomodasi benda-benda lain yang tidak disebut dalam hadis Nabi tersebut, semisal susu, telur, dan lain-lain benda yang dapat dipertukarkan satu sama lain. Menurut  pendapat  kelompok  kedua,  benda-benda  yang  terdapat  dalam  sabda Nabi yang bersumber dari ‘Ubadah ibn Shâmit tersebut, hanya sampel saja dan dapat dikembangkan dengan cara menganalogikan  dengan benda-benda yang disebut  dalam  hadis  Nabi  tersebut. Bila  disederhanakan  enam  macam  benda yang disebut dalam sabda Nabi tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yakni:  jenis  makanan pokok,  benda-benda  berharga,  dan  benda-benda  yang  dapat  tahan  lama  untuk  disimpan.  Setiap benda  yang  masuk  salah  satu  dari ketiga kategori tersebut, dapat dijadikan objek riba fadhl.

Berbeda dengan pendapat jumhûr fukaha tersebut, dalam mazhab Syâfi‘î, riba itu dibedakan menjadi tiga macam, yakni: riba nasî’ah, riba fadhl, dan riba yad. Jumhûr fukaha,  memasukkan  riba yad ini  ke  dalam kategori riba nasî’ah. Perbedaan riba yad dengan riba nasî’ah dalam mazhab Syâfi‘î adalah, dalam riba nasî’ah, ketika terjadi akad, benda yang diakadkan sudah ada dan sudah dapat diserahterimakan. Sementara pada riba yad, benda yang diakadkan belum ada dan belum dapat diserahterimakan sewaktu terjadinya akad.

Sumber : Mujar Ibnu Syarif: Konsep Riba Dalam Al Quran dan Literatur Fiqh, (Al-Iqtishad:Vol. III, No. 2, Juli 2011)


Terimakasih sudah berkunjung !
EmoticonEmoticon